Setelah bertahun-tahun mencuat di masyarakat, isu revitalisasi Pasar Johar kembali batal dilaksanakan di 2012 ini. Ini sama halnya dengan kiamat, karena revitalisasi akan mengorbankan bangunan bersejarah, pedagang, bahkan sisten yang terjalin antara sumber daya yang ada di Pasar Johar dan masyarakat Semarang.
Semarang-Isu revitalisasi pasar Johar telah santer terdengar sejak 2007 lalu. Tetapi hingga akhir 2012 ini, yang direncanakan sebagai tahun direalisasikan pembangunan, tak kunjung ada tindak lanjut dari pemerintah. Ditemui Sabtu lalu (29/12) di daerah Pleburan, Khrisna dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, menjelaskan bahwa selain terkendala biaya, faktor manusia adalah masalah serius dari isu revitalisasi ini. "Masyarakat yang ada dalam Pasar Johar ini bisa diibaratkan seperti kampung besar yang penduduknya saling berkeluarga. Itulah mengapa jika revitalisasi benar dilakukan, para pedagang tidak akan terima jika anggota keluarganya tergusur", terang Khrisna.
Benar saja, revitalisasi ini setidaknya akan menyingkirkan lebih dari 7500 pedagang di Pasar Johar. Khrisna juga menjelaskan, seleksi alam akan terjadi jika banyak pedagang yang akan tergusur. Harga akan melonjak naik, bahkan barang impor pun akan berpeluang besar masuk. "Ini sama halnya dengan memutus jaringan ekonomi mikro. Karena sebagian besar pemasukan dan sumber daya berpusat di Pasar Johar", jelas Khrisna.
Menurut Khrisna, revitalisasi ini harusnya bukan sekedar memperbaiki bangunannya saja, tapi juga yang ada di dalamnya. "Ibaratnya adalah kita hanya memperbaiki hardware saja tapi software nya tetap jadul ", imbuhnya. Khrisna juga menekankan bahwa sebenarnya tidak ada masalah dari segi bangunan. Sejak tahun 1939, Karsten telah memperhitungkan bangunan ini sedemikian rupa agar ramah terhadap iklim tropis. Tapi yang menjadi masalah ada pada sistem pengelolaan Pasar Johar itu sendiri. (Kuni)
