Memilih jurusan perkuliahan setelah lulus SMA memang tidak mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan seperti biaya kuliah, orientasi kerja, dan tingkat persaingan untuk masuk di jurusan tersebut. Memang untuk sebagian orang tidak begitu penting apakah jurusan yang diambilnya sekarang merupakan bidang yang terbaik dan apakah sudah sesuai dengan passion mereka. Hanya saja, sedini mungkin harus dipertimbangkan baik-baik. Jangan sampai kelak merasa "salah jalan", kecewa dan menyesal, kuliah pun akhirnya bermalas-malasan.
Beberapa alasan mengapa siswa-siswi lulusan SMA memilih jurusan tersebut, kebanyakan dari mereka cenderung memilih jurusan yang dianggap menjadi tren, ikut-ikutan teman, bahkan ada yang hanya menurut dengan keinginan orangtuanya tanpa mempertimbangkan kemampuannya sendiri.
Menurut data survei tenaga kerja nasional yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) tahun 2009 lalu, tingginya jumlah pengangguran di Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan. Data tersebut mengungkapkan, dari 21,2 juta orang Indonesia yang masuk dalam angkatan kerja, sebanyak 4,1 juta atau sekitar 22,2 persen adalah pengangguran. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, tingkat pengangguran terbuka itu didominasi oleh lulusan diploma dan universitas dengan kisaran angka di atas 2 juta orang. Merekalah yang kerap disebut dengan "pengangguran akademik" akibat "salah" memilih jurusan. (dok: Kompas, April 2011)
Dari data di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa akibat dari “salah” memilih jurusan itu tidak main-main. Bukannya sesuai keinginan, malah sebaliknya. Ujung-ujungnya kemudian memilih pindah jurusan. Dan otomatis harus mengeluarkan biaya lagi. Padahal semakin lama persaingan kerja semakin ketat, jika masih belum yakin dengan passion-nya sendiri, di titik yang paling parah, akhirnya sulit memperoleh kerja.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar